Artikel Terbaru Dari Shardun Tabayun

Dekapan dan Senyuman Terakhir

 


Demi Bayiku

Lima tahun sudah dia mengarungi rumah tangga dengan berlimpah kasih sayang dan gelimang kebahagian. Tapi kehadiran seorang anak yang akan menambah sempurnanya kebahagian rumah tangga belum hadir menghiasi canda dan tawa. Meskipun suami dan keluarganya tidak banyak menuntut untuk lahirnya seorang bayi dari dia. Cobaan pun dating, dokter mengabarkan kepada dia, bahwa dia menderita penyakit yang tidak memungkinkan dia melahirkan anak. Air mata pun berlinang membasahi pipi  ketika mendengar kabar itu. Dalam dekapan suami tercintanya dia menangis tersedu-sedu sambil memohon maaf. Elusan tangan suaminya yang penuh kasih sayang sedikit meredakan kesedihan dia. Suaminya terus memberi motivasi agar dia tidak merasa bersalah dan tidak putus asa. Selalu sabar dan tabah menghadapi kenyataan.

Kapasrahan, kesabaran, ketabahan, dan penyerahan diri kepada Yang Maha Kuasa membuat dia untuk terus berusaha dan berdoa. Tiada hari tanpa berdoa, tiada waktu tanpa memohon. Dua belas tahun sudah dia menjalani hidup dengan penuh harap dan kepasrahan kepada Yang Maha Pencipta. Yang Maha Pemberi mengabulkan doa-doa dia. Tanda-tanda kehadiran seorang bayi mulai terasa dalam kandungan dia. Dengan penuh suka cita dia rawat kandungannya, sambal terus berdoa agar kelak kelahirannya berjalan lancar dan selamat.

Tibalah waktunya persalinan. Dia dihadapkan pada dilema yang begitu menyedihkan. Dia harus memilih apakah dia atau bayinya yang harus diselamatkan. Meskipun dokter telah berjuang Sembilan jam untuk menyelamatkan keduanya. Tapi hasilnya sama, harus memilih salah satu yang diselamatkan. Dalam kesedihan yang begitu mendalam, naluri dan kasih sayang seorang ibu mampu menggerakkan bibir dia yang begitu kelu dan bisu. Dengan suara lirih dia berkata, “dokter, tolong selamatkan bayi ini. Aku  ingin  dia merasakan kebahagian dalam menjalani kehidupan, meskipun aku tidak melihatnya. Aku ingin  dia merasakan kekaguman memandang keindahan alam ciptaan Yang Maha Indah. Aku ingin dia merasakan kehangatan dan kasih sayang bapak dan saudara-saudaranya. Biarlah perjuangan aku berakhir sampai di sini.”

Dengan perasaan berat hati dengan tetap berharap pada pertolongan Yang Maha Kuasa, dokter terpaksa harus memilih apa yang diinginkan oleh dia. Menyelamatkan bayi walau pun dengan resiko nyawa ibunya. Nyawa dia.

Di pagi hari, pada hari Jum’at kira -kira pukul setengah delapan. Lahirlah seorang bayi laki-laki sehat, tampan, dan lucu. Lahir dari seorang ibu yang soleh, sabar, dan tabah. Bayi yang baru lahir itu pun segera didekapkan dalam pelukan dia. Dengan linangan air mata dia mencium dan memeluk bayinya hanya dalam beberapa menit saja. Dia tersenyum pada bayinya, kemudian dia menutup mata untuk selama-lamanya. Menghembuskan napas terakhirnya sambal memeluk bayinya.

Terdengarlah begitu keras suara tangis bayi itu. Seolah-olah ia merasakan kesedihan yang begitu dalam, kesedih karena ibu yang telah memberinya kesempatan untuk hidup, pergi untuk selamanya. Seolah ia merasa sedih karena selama hidup ia tidak akan pernah melihat ibunya lagi. Sepertinya ia merasa tidak akan lagi mendapat kasih sayang ibunya, seperti yang pernah ia dapatkan selama dalam kandungan ibunya. Itulah dekapan, ciuman, dan senyuman pertama dan terakhir yang dia berikan kepada anaknya.

Aku tak mampu melanjutkan cerita ini, aku hanya bisa berkata lirih, “ Ibu dalam kesedihanku engkaulah yang paling merasakan dari pada diriku. Ibu dalam penderitaanku engkau yang paling menderita dari pada aku. Ibu dalam kesusahanku engkau yang paling merasa susah dari pada aku. Padahal aku hanya bisa menuntut kasih sayangmu. Ibu maafkan aku. Aku tidak akan bisa membalas pengabdianmu. Ibu engkaulah pahlawanku.”

 

Shardun Tabayun.

Sukapura, 12 November 2020

Sumber Cerita : Postingan yang diteruskan oleh Kang Taryana di Grup WA PGSD Cibiru 93 forever.


0

Post a Comment