Artikel Terbaru Dari Shardun Tabayun

Sebutir Telur


Nasehat Sebutir Telur 

Karya : Oma

Neng, berapa harga satu butir telur?” Tanya seorang bapak sambil menunjuk pada semur telur di dalam sebuah panci. Seorang bapak yang sudah berumur. Seorang bapak yang sudah semestinya  menikmati masa tuanya. Seorang Bapak yang sudah pada waktunya merasakan hasil perjuangan di masa mudanya. Seorang bapak yang belakangan kuketahui bahwa dia bernama Sodikin. Biasa dipanggil Mang Sodik.

“Dua ribu lima ratus, Mang! Jawab Neng Siti sambil tetap tersenyum ramah. Neng Siti adalah anak pemilik warung nasi sederhana yang setiap hari setia melayani semua pelanggannya dengan suguhan keramahan dan masakannya yang cukup enak dan tidak perlu harus menguras isi saku terlalu dalam. 

Neng, boleh membeli satu butir saja?” Mang Sodik bertanya lagi.

“Boleh Mang.” Jawab Neng Siti sambil tetap melebarkan senyumnya.

Neng, Tidak apa-apa kalau uangnya recehan?” Lanjut Mang Sodik sambil mengeluarkan lima buah uang logam lima ratusan. Mang Sodik terlihat ragu-ragu mengeluarkan uang recehan. Mungkin malu oleh orang-orang yang ada di tempat itu.  Orang-orang yang sedang atau sudah makan. Orang-orang yang makan dengan daging ayam, daging sapi, ikan beserta sayurannya. Orang-orang yang makan tidak hanya dengan sebutir telur.

Seperti telah mengetahui perasaan Mang Sodik, Neng Siti segera membungkus sebutir telur kemudian diberikannya kepada Mang Sodik. Uang logam dari Mang Sodik segera diambilnya dan dimasukan ke dalam tempat uang. Dengan sedikit tergesa-gesa Mang Sodik keluar dari warung nasi. Aku pun segera menyebutkan makanan yang telah mengisi perutku yang keroncongan.

“Dua puluh lima ribu, Pak! Kata Neng Siti sambil melirik padaku. Aku segera mengeluarkan uang dua puluh lima ribu rupiah dan memberikannya kepada Neng Siti. Aku segera keluar dari warung itu dengan tetap menyampaikan terima kasih kepada Neng Siti.

Baru saja dua langkah dari pintu warung, aku disuguhkan dengan pemandangan yang membuat bibirku kelu. Membisu. Pemandangan yang membuat dadaku sesak menahan kesediahan. Pemandangan yang membuat hatiku luluh. Pemandangan yang pada akhirnya memaksa mataku mengeluarkan air mata. Kasih sayang yang telah Allah percikan ke dalam hatiku membuat aku bertengadah memohon kepada Yang Maha Pemilik Kasih dan Sayang. “Ya Allah, berilah ketabahan dan kesabaran kepada Mang Sodik dan kedua anak perempuannya.”

Bungkusan yang berisi sebutir telur, kini telah berpindah ke genggaman tangan anak sulung Mang Sodik. Anak bungsunya meraih tangan kakaknya yang sudah memegang bungkusan sebutir telur. Sedikit raut muka kegembiran terpancar dari mereka. berjalanlah mereka ke sebelah utara diiringi Mang Sodik sambil membawa balon gas yang tinggal beberapa buah.

Ternyata sebutir telur yang dibeli dengan uang recehan itu untuk makan kedua anaknya. Lalu bagaimana dengan Mang Sodik? Apakah hari ini Mang Sodik cukup makan nasinya saja? Atau mungkin Mang Sodik tidak makan apa-apa. Lalu bagaimana dengan istrinya? Bagaimana pula nasib mereka esok hari? Semua pertanyaan itu membawa aku untuk membayangkan kehidupan Mang Sodik. Terlihat jelas dari kondisi badanya yang kurus seperti sedang mengidap penyakit. Warna bajunya yang sudah memudar, lusuh, dan sudah terlihat sobekan-sobekan kecil. Kenyataan seperti itu terlihat pula pada kedua anaknya. Haruskah ini terjadi pada keluarga Mang Sodik di zaman yang serba modern ini? Demikian protes suara hatiku. Padahal di kehidupan lain, banyak orang kaya yang menghabiskan uang ratusan ribu bahkan jutaan rupiah.untuk satu kali makan.

Aku hanya bisa terdiam. Keinginan untuk sekedar menyapa Mang Sodik tak mampu aku lakukan. Sesekali tanganku menyeka air mata yang terus keluar tak tertahankan. Apalagi kalau teringat pada uang dua puluh lima ribu yang telah aku serahkan kepada Neng Siti. Sejumlah uang yang aku bayarkan untuk satu kali makan. Sementara, Mang Sodik hanya mampu membeli satu butir telur seharga dua ribu lima ratus rupiah,  dari hasil jerih payahnya satu hari. Satu butir telur yang harus dibagi oleh kedua anaknya dan dia. Atau mungkin dia tidak dapat merasakannya. Karena untuk kedua anaknya juga tidak akan cukup. Seandainya uang itu ada di tangan Mang Sodik, mungkin Mang Sodik tidak hanya mampu membeli sebutir telur, tapi sepuluh telur. Kalaulah hal ini terjadi. alangkah bahagianya kedua anak Mang Sodik.”Ya Allah, betapa besar nikmat yang telah Engkau berikan kepada hamba. Ya Allah, terima kasih. Ya Allah, ampuni hamba yang selama ini kurang bersyukur atas semua kasih sayang-Mu.”

Sebutir telur telah menasehati aku tentang makna bersyukur. Sebutir telur telah mengingatkan aku untuk selalu mensyukuri kasih sayang Allah yang begitu banyak. Sebutir telur yang telah mengajari aku tentang pentingnya berbagi dengan orang-orang seperti Mang Sodik yang mungkin ada di sekitar tempat tinggalku. Atau mungkin terjadi pada kerabat dan sahabat-sahabatku. “Ya Allah, terima kasih Engkau telah mengajari hamba makna kasih sayang lewat kejadian-kejadian yang telah hamba saksikan dan hamba yakin, semua itu berada dalam skenario-MU.”

Mang Sodik, seorang tukang balon gas yang sudah hampir empat puluh lima tahun  menjalani pekerjaannya. Seorang tukang balon gas yang sudah banyak ditinggalkan oleh pelanggannya. Sebagian besar pelanggan Mang Sodik telah berpaling kepada mainan yang lebih bagus, Mainan yang lebih modern. Mainan yang banyak dijajakan di glosir-glosir mainan atau mainan yang terpangpang rapi di etalase-etalase swalayan.

Dalam persaingan yang begitu berat, tidak membuat Mang Sodik untuk meninggalkan profesinya yang telah lama dilakoninya. Atau mungkin karena Mang Sodik tidak mempunyai keterampilan lain selain keliling kampung berkilo-kilo meter panjangnya, manjajakan balon gas. Pada balon gas Mang Sodik dan keluarganya mengantungkan hidup. Satu hal yang membuat aku kagum, tidak terlihat wajah penyesalan atau putus asa pada diri Mang Sodik. Usia tua tidak menjadikan dirinya untuk berdiam diri. Dia terus berusaha menjajakan balon gas, meskipun dirinya belum tahu berapa balon gas yang laku hari ini. Itukah ketegaran. Itulah ketabahan yang mungkin sudah jarang ditemui di masa yang serba modern ini. di zaman yang serba mudah, dan serba instan.

Aku tak rela untuk memalingkan pandanganku barang sekejap. Aku terus menatap ke mana Mang Sodik melangkah, Hingga mataku tak berdaya untuk melihatnya lagi. Dalam langkahnya aku yakin ada kepasrahan yang tulus. Dalam geraknya tersimpan semangat untuk terus berusaha menyemput rizki. Di dalam hatinya ada kasih yang besar terhadap istri dan anak-anaknya. Kasih sayang ini yang mampu menghalau semua rintangan, tantangan dan persaingan. Aku belajar ketabahan, ketegaran dan arti kasih sayang dari sosok Mang Sodik. Orang sederhana yang mungkin sudah tidak diperhitungkan oleh orang banyak. 

Dalam perjalanan pulang, wajah Mang Sodik dan kedua anaknya terus mambayangi aku. Wajah tegar yang memberi nasehat kepadaku untuk selalu bersyukur. Ya, Allah terima kasih atas semua nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku. Ya Rabbi, anugerahkanlah kekuatan kepadaku untuk tetap mensyukuri nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhoi. Masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-Mu yang saleh.” Amiin.

 

Kertasari, Januari 2017

(Pernah dimuat di Majalah Hibar Sabilulungan)

0

Post a Comment