“Ibumu”. “Ibumu”. “Ibumu”. Lalu “Bapamu”.
Arti Sebuah Kesuksesan
Oleh : Oma, S.Pd.
Sebut saja dia Aminah (nama samaran)
seorang wanita solehah yang hidup di pinggiran kota. Berasal dari keluarga
miskin. Jangankan untuk menikmati gemerlapnya kota besar, untuk sekedar
mencicipinya saja sudah menjadi barang yang sepertinya mustahil. Tetapi kenyataan
itu tidak menjadikan Aminah
seorang wanita pecundang. Ia terus berusaha mengejar asa mencapai cita-cita.
Semua waktunya digunakan untuk belajar dan belajar, semangat bekerja, dibarengi dengan keikhlasan berdoa.
Hingga akhirnya mampu menyelesaikan pendidikannya sampai tingkat Doktor. Sekarang
dia menjadi orang berhasil dan mampu membangun keluarga yang berbahagia.
Liku-liku perjalanan hidup Aminah
hampir sebangun dengan Ahmad. Seorang anak kampung di bawah lereng gunung yang
menjelma menjadi seorang pemuda pelopor pembangunan desa. Ahmad kecil sudah
terbiasa makan pagi, sore tidak. Makan sore, pagi tidak. Dengan tekad yang kuat
ia rela meninggalkan kampung halamannya pergi ke kota untuk mencari ilmu.
Dengan usaha pantang menyerah, dengan belajar sambil bekerja, ia mampu meraih gelar
Doktor bidang pertanian. Setelah cukup ilmu ia kembali ke kampung untuk
membangun desanya. Lahan tidur ditekuninya menjadi tanah yang subur. Ilmunya
itu tidak ia gunakan untuk kemakmuran dirinya sendiri. Tapi disebarluaskan
kepada penduduk desa. Alhasil desa Ahmad menjelma menjadi pusat-pusat pertanian
dengan omset milyaran rupiah. Kini Ahmad bisa hidup bahagia bersama keluarga
dan penduduk desa yang setiap saat terbalut rasa syukur akan anugerah yang
telah diberikan oleh Yang Maha Pemberi Rizki.
Kita sepakat, sekali lagi kita sepakat
bahwa Aminah atau Ahmad adalah orang-orang sukses atau orang-orang yang telah
mencapai puncak kesuksesan. Lalu, apakah tidak muncul pertanyaan skeptis dari
diri kita, betulkah Aminah atau Ahmad yang telah mencapai kesuksesan itu?
Apakah tidak ada orang lain yang sebenarnya harus memiliki kesuksesan itu?
Adakah orang yang mempunyai
andil besar dalam kesuksesan Aminah dan Ahmad?
Suara hatiku, sekali lagi suara hatiku
yang mampu menjawab semua pertanyaan
itu. Yang mencapai kesuksesan itu, yang harus memiliki kesuksesan itu, dan yang
mempunyai andil besar dalam kesuksesan itu adalah “orang tua, orang tua, sekali
lagi orang tua Aminah dan Ahmad. Ayah
yang telah berusaha keras siang malam untuk menghidupi keluarganya, seorang ibu
yang telah mengadung sembilan bulan, berjuang antara mati dan hidup ketika
melahirkan mereka, menyusui selama dua tahun, mengurus sampai mereka dewasa
sehingga terjelmalah seorang anak-anak yang sukses secara duniawi dan ukhrowi.
Kini kesepahaman kita tentang keberhasilan Aminah dan Ahmad mendapati tempat yang semestinya, bahwa yang
mencapai puncak keberhasilan itu adalah “orang
tua mereka”. Dan di situ ada perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa,
yaitu perjuangan seorang ibu.
Lalu, dimanakah letak
keberhasilan Aminah atau Ahmad yang telah bekerja keras mencapai
cita-citanya? Pertanyaan ini akan
terjawab apabila Aminah atau Ahmad telah mampu mendidik anak-anaknya menjadi
orang yang sukses, minimal seperti mereka, apalagi kalau mampu melebihi mereka.
Inilah keberhasilan Aminah atau Ahmad.
Alangkah tidak pada
tempatnyalah apabila ada orang yang berhasil mencapai kesukseasan kemudian
membanggakan dirinya sambil menepuk dada dan berkata, “inilah saya dan inilah
keberhasilan saya”. lalu lupa pada orang tuanya yang pada waktu siang bekerja
keras bercucuran keringat, di kala malam bersujud sambil berlinang air mata di
hadapan yang Maha Kuasa mendoakan anak-anaknya supaya berhasil mencapai
cita-citanya. Kiranya cerita Malin Kundang, yang menjadi batu karena durhaka
tidak mau mengakui ibunya setelah dia berhasil , sudah sangat cukup menjadi
contoh buruk untuk tidak dijelmakan oleh orang-orang yang sudah mencapai
keberhasilan. Atau cerita Si Boncel yang jatuh tersungkur dalam kubangan
penyakit kulit yang tak tersembuhkan. Dengan pongah Si Boncel menghardik ibunya
yang sudah tua renta. Si Boncel sangat tidak mengharapkan kehadiran ibunya
dalam kehidupannya yang serba mewah, bergelimang harta kekayaan, dan berhiaskan
tahta kesuksesan. Bagaimana kesudahannya, seluruh kekayaannya habis dipakai
untuk mengobati penyakit kulitnya. Penyakitnya semakin parah. Tidak ada seorang
pun yang mau mendekatinya. Dia hidup sendiri dalam penderitaan. Dan akhirnya
dia mati dalam kesengsaraan dan kenistaan.
Dua cerita di atas mungkin
tidak terjadi dalam dunia nyata, tapi kita dapat mengambil pelajaran bahwa
dalam setiap kesedihan anak ada kasih sayang ibu, dalam setiapa perjuangan anak
ada pengorbanan ibu, dan dalam kesuksesan seorang anak ada jasa-jasa ibu yang
tidak mungkin terhitung dengan rumus matetamtikan apa pun, tidak mungkin
terbayar dengan lembaran-lembaran hedonism yang menjadi impian manusia modern.
Bagi muslim, penghormatan,
penghargaan, dan pengakuan terhadap kebaradaan seorang ibu sudah sangat jelas
dan tegas. Nabi Muhammad menempatkan seorang ibu pada tiga posisi teratas. “Ibumu”. “Ibumu”. “Ibumu”. Lalu “Bapamu”. Ini menunjukkan bahwa Islam
sangat menghargai dan menghormati peran, perjuangan, pengorbanan, dan kasih
sayang seorang ibu.
Terima kasih ibu. Selamat “Hari Ibu”. Terima kasih atas semua
kasih sayangmu. Aku tidak akan mampu membalas kehebatanmu.
Shardun Tabayun / Oma Ajah
(Pernah dimuat di Hibar Sabilulungan, No. 36/3
Edisi Januari 2017

0
Post a Comment