Artikel Terbaru Dari Shardun Tabayun

“Maafkan Ibu! Maafkan Ibu! Maafkan ibu!”

 




Dilema

Putaran  ban  mobil seakan tak mau berhenti. Terus menjauh membawa hatiku yang dipenuhi kebimbangan, kegalauan, dan kesedihan. Tak terasa air mataku menetes menambah keharuan yang terus menyesakkan dada. Berkali-kali kuseka air mata itu, tetapi semakin kuseka semakin banyak yang keluar. Seolah air mata itu menyampaikan protesnya bahwa aku tidak semestinya pergi meninggalkan keluargaku.

Ratusan gedung yang kulihat sepertinya mengiyakan protes air mataku, bahkan protes mereka lebih terasa menyakitkan.  Dari Jendala dan pintu-pintu gedung terdengar jelas suara protesnya, mereka menuduhku sebagai seorang ibu yang egois, tidak punya rasa kasih sayang, lebih mementingkan karier dari pada nasib anak-anaknya. Mendengar itu air mataku turun lebih deras. Entah sudah berapa sobekan tissu yang aku pakai untuk menyeka air mata. Segala rencana indah, yang telah ku susun  enam bulan  yang  lalu bersama suami dan anak-anakku terus membayang. Berjuta kebahagian yang telah terbayangpun kini sirna. Yang tersisa tinggalah lambaian tangan suami dan anak-anakku yang dengan perasaan berat merelakan kepergianku.

Beruntunglah kulihat ada iring-iringan anak sekolah  sambil bercanda tawa. Di wajah mereka kulihat berjuta pengharapan untuk meraih cita-cita dan masa depan yang cemerlang. Aku yakin bahwa senyuman dan pengharapan mereka ditujukan kepadaku. Agar aku kuat dan istiqomah dalam mengambil keputusan. Agar aku bersungguh-sungguh dalam menjalani seluruh proses PLPG, agar aku memperoleh pengetahuan dan pengalaman berguna untuk mereka. Melihat itu semua aku jadi teringat akan anak-anakku di sekolah. Senyum polos mereka mengharapakan aku akan datang membawa berbagai ilmu tentang cara mengajar dan mendidik. Mengingat itu, hatiku kini menjadi yakin bahwa aku telah memutuskan sesuatu yang benar. Keputusanku untuk kebaikan keluarga dan anak-anak bangsa.

Di tempat PLPG, ada juga yang menyebut “Kawah Candradimuka” aku berusaha keras membuang semua kebimbangan, keraguan, dan kesedihanku jauh-jauh. Hari-hari kuisi dengan kegiatan yang kelak dapat menjadikan aku guru profesional. Jadwal yang telah ditetapkan kujalani dengan keikhlasan dan semangat. Hingga tiba pada malam kelima. Kulihat seorang  perempuan muda bersama seorang laki-laki datang menghampiriku. Di wajah keduanya terlihat goresan-goresan kesedihan. Meskipun mereka berusaha menutupi kesedihannya itu dengan senyuman. Nurani keibuan menuntun hatiku untuk menyelami semua kesedihan yang tengah mereka rasakan. Mereka tengah menghadapi sebuah dilema yang sulit sekali dipecahkan. Mereka akan mengalami peristiwa bahagia yang langsung berhadapan dengan sebuah kesedihan yang tiada tara. Mereka akan menemui kebahgian yang dicita-citakan, kebahagian kisah cinta sejati, kebahagian yang sangat dinanti-nanti oleh setiap insani. Kebahagian untuk  mengarungi mahligai keluarga sakinah mawadah warohmah.

Menyaksikan kenyataan itu, air mataku  turut berduka dan membasahi pipiku. Rasanya aku ingin berteriak keras, menyampaiakn protes pada keadaan, menyampaikan pembelaan atas nasib yang telah mendera kedua sejoli itu. Dan air mataku semakin deras setelah sadar bahwa perempuan muda itu adalah anak sulungku yang akan meminta restu bahwa besok hari ia akan melangsungkan pernikahan dengan laki-laki yang sangat ia cintai. Dan laki-laki yang mendampingi itu adalah calon  menantuku.

“Ya Alloh berilah aku kekuatan untuk menghadapi ini semua. Aku tidak punya kekuatan untuk menghadiri pernikahan anak sulungku”. Hanya itulah yang bisa kusampaikan kepada Sang Pemberi kekuatan. Selang beberapa meter dariku, Anakku berlari dan memburu tubuhku. Dengan erat mendekapku. Tanganku tergerak untuk mendekap lebih erat lagi. Meledaklah tangisan pilu aku dan anakku. Aku tidak lagi peduli sama teman-temanku yang ikut menyaksikan drama kesedihanku. Setelah sadarkan diri, anakku mencium tanganku sambil bersuara lirih.

“ Bu, maafkan anakmu ini yang telah menggagu kegiatan PLPG ibu, Aku datang bersama calon mantu ibu untuk memohon doa restu, besok aku akan melangsungkan pernikahan”, untuk sesaat anakku terdiam seperti sedang mengumpulkan kekuatan untuk melanjutkan pembicaraannya.

“Ingin sekali di hari bahagiaku ibu hadir menyaksikannya sambil mengucapkan  untaian doa untuk kebahagianku, membelai dan memeluk aku dihadapan penghulu dan saudara-saudaraku. Tapi entah apa dikata. Inilah kenyataan yang harus aku hadapi. Kenyataan yang sulit untuk dihindari, karena yang ibu lakukan juga untuk kabaikan kami dan bangsa ini”, anakku terdiam lagi sambil menyeka air matanya dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya masih memegang erat tanganku sambil tetap menciumnya.

“Sebenarnya tidak banyak yang kuharapkan dari ibu, hanya untaian doa seorang ibu dan kehadiran ibu. Tapi biarlah akan kuanggap semua ini sebagai cobaan. Aku ingin protes, ingin marah, tetapi kepada siapa aku akan protes, kepada siapa aku mesti marah. Biarlah semua ini terjadi. Akan kujadikan semua ini sebagai bekal untuk mengarungi bahtera rumah tangga yang lebih bermakna dan berbahagia, doakan kami, Bu!”

Semua ucapan anakku membuat hatiku  luluh, kepiluan menyayat hati. Untuk beberapa saat aku tidak mampu mengucapkan sepatah katapun. Air mata terus membasahi pipiku. Tidak mampu aku tahan. Hanya tatapan pilu yang mampu aku sampaikan kepada anakku.

“Bu, ini calon mantu ibu, laki-laki yang aku cintai. Laki-laki yang kelak akan menjadi imam bagiku dan anak-anakku, lelaki yang akan bersama-sama dengan aku dalam suka dan duka. Bu, restuilah pernikahan kami”, sambung anakku meneruskan pengharapannya. Sementara itu aku masih belum kuat untuk menjawab semua pengharapan anakku. Ku dekap pula laki-laki muda yang kelak akan menjadi suami anakku.

Dengan memohon pertolongan kekuatan kepada Pemilik Kekuatan dan ucapan basmallah  dalam hati aku berusaha menjawab pengharapkan anak dan calon mantuku. “Anaku dengan ketulusan hati, dengan kerelaan jiwa, Ibu  restui  pernikahan kalian. Semoga kalian menjadi keluarga yang mendapat kebahagian di dunia dan kelak mendapat kebahagian di surga. Bersabarlah, tabahlah dalam menjalani kenyataan ini. Yakinlah bahwa semua ini akan menjadi awal kebahagian untuk kalian. Ibu mohon maaf karena tidak bisa menghadiri pernikahan kalian. Dengan sangat berat Ibu harus menentukan pilihan ini. Ibu harus tetap di sini sampai waktunya tiba, ibu akan pulang menemui kalian yang sudah berumah tangga, Maafkan Ibu. Maafkan  Ibu, Maafkan Ibu”, untuk sementara aku diam, mengumpulkan lagi kekuatan.

“Tolong sampaikan pula permohonan maaf ibu kepada ayah , saudara-saudara ibu, dan calon mertuamu. Dari sini akan terus ibu sampaikan doa-doa untuk kalian. Sekali lagi maafkanlah ibu. Pulanglah beserta doa-doa ibu, Jemputlah kebahagian kalian, Hadapilah pernikahan  kalian dengan kasabaran dan ketabahan tanpa kehadiran ibu”.

Perlahan anak dan calon mantuku melangkah pulang membawa pengharapan yang tak kesampaian. Aku hanya bisa menatap langkah mereka sambil terus mengucapkan “Maafkan Ibu! Maafkan Ibu! Maafkan ibu!”  Sambil terus menatap gerak langkah anak dan calon mantuku  sampai tidak kelihatan lagi.

  

Shardun Tabayun, 2012

(Sekelumit Cerita dari PLPG episode 1,  Ide cirita dari Ibu Nina)


0

Post a Comment