BATU KELERENG YANG SETIA (MENGUNGKAP CERITA DARI MESEUM BUMI NYAI TANGULUN)
BATU KELERENG YANG SETIA
Sebutan Batu Kelereng dikarenakan batu ini bentuknya mirip kelereng. Batu ini ditemukan oleh Ani Suhartini, M.Pd. Guru SMPN 2 Limbangan Garut. Sekarang disimpan di Mesium miliknya, yaitu Mesium Bumi Nyai Tangulun Limbangan.
Penemuan batu ini di selimuti cerita yang mungkin tak masuk akal. Cerita yang langsung dialami oleh penemunya. Dulu waktu Ani Suhartini masih sekolah di sekolah dasar, tepatnya kelas III SD.
Ketika itu malam hari, Ani kecil merasa sangat takut oleh hantu telur (jurig endog dalam Bahasa Sunda), yang lebih parah lagi ternyata hantu telur itu ada di rumahnya, di ruang tengah. Ani kecil segera tidur di kamarnya sambil menutupi seluruh badannya dengan selimut. Tapi semua itu tidak mampu menghilangkan ketakutannya. Batu itu terus bergerak ke sana ke mari. Suara Gerakan batu itu mampu menembus pintu kamar dan memaksa masuk ke telinga Ani. Rasa takut semakin menjadi-jadi, keringat dingin keluar. Ani kecil membayangkan, bagaimana kalau batu tersebut menjelma jadi hantu yang sebenarnya, bertambah lagi rasa takutnya. Aduh, itu lagi, ada suara kucing yang terus berlari mengikuti gerakan batu. Sambil bergerak, kucing pun ikut bersuara. Pikiran aneh muncul juga pada benak Ani Kecil. Bagaimana kalua hantu telur itu masuk ke dalam tubuh kucing, kemudian kucing membesar seperti harimau, kemudian masuk ke kamarnya. Suasana makin mencekam. Ani kecil semakin gelisah, walau pun mata terpejam, tapi tidak bisa tidur.
Karena tidak bisa tidur saja, Ani kecil memberanikan diri bangun sambil ngendap-ngendap. Dia mencoba mengintip dari celah kecil bilik kamarnya. Dan ternyata benar, batu kelereng itu terus bergerak ke sana ke mari, diikuti oleh kucing. Mata Ani kecil melotot seperti tidak terpercaya. Satengah meloncat Dia kembali ke kasurnya, tidur lagi dengan menutupi lagi seluruh badannya dengan selimut. Penasaran lagi, Dia mengintipnya lagi. Ternyata Hantu telur masih bergerak diikuti oleh kucing. Dia loncat lagi ke kasur. Terus dan terus kelakuan Ani kecil seperti itu.
Entah berapa kali. Entah berapa jam waktu yang telah dihabiskan Ani kecil. Hingga terdengar suara pujian (pupujian) dari toa masjid. Dia masih ingat bahwa suara itu adalah suara Abah Eyen. Setelah Abah Eyen selesai melantunkan pupujian, terdengar sesuatu yang jatuh dari atas rumah. Suara jatuhnya benda tersebut sangat keras. “Bleduuug….” Gubraaag …., “Daaarrr.” Saking keras, suaranya terdengar bagaikan bom jatuh. Dia loncat lagi ke kasurnya. Kali ini Dia tidak berani lagi untuk mengintipnya lagi. Terus Dia memaksakan diri untuk tidur.
Pagi hari sebelum berangkat ke sekolah. Dia suka membantu orang tuanya membereskan rumah. Ketika sedang menyapu, dekat pintu, Dia menemukan batu bulat seperti kelereng, warna putih. Dakam hatinya berkata, mungkin ini batu yang tadi malam bergerak-gerak. Karena Dia suka main kelereng walaupun Wanita, maka dirawat dan disimpannya batu tersebut. Ketika sedang bermain kelereng dengan temannya, batu tersebut suka digunakannya. Aduh hebatnya. Dengan batu kelereng tersebut, Ani kecil menjadi hebat dalam menembak kelereng temannya. Dalam jarak dua sampai tiga meter, batu kelereng tersebut selalu tepat sasaran. Alhasil kereng Ani kecil sangat banyak, karena salalu menang. Entah berapa ransel kelereng yang Dia punya.
Ketika Dia memasuki sekolah SMP dan SPG (setingkat SMA), batu kelereng itu sudah tidak menjadi bagiannya lagi. Batu itu dititipkan pada ayahnya. Tapi aneh, Ketika Dia duduk di kelas III SPG, Ketika itu temannya sedang menyetrika bajunya. Batu kelereng itu ada di saku bajunya yang akan disetrika. Dengan nada mengolok-olok dan berteraik, temannya berkata. “Ani…., di saku bajumu ada kelereng, masa perempuan suka main kelereng, sudah besar lagi.”
Dia tidak menghiraukan ocehan temannya. Diambilnya batu itu kemudian dia simpan dengan sebaik-baiknya. Waktu pulang ke rumahnya. Batu itu dititipkan kembali pada ayahnya. Kejadian yang sama terjadi lagi. Ketika Dia akan melaksanakan wisuda di IKIP Bandung. Kekasih Dia melihat batu di dalam gelas. Setelah di perhatikan dengan teliti, ternyata batu itu adalah batu yang sudah dititipkan pada ayahnya. Tanpa banyak bicara, Dia menyimpan batu itu. Dan Ketika pulang ke rumahnya di Limbangan, batu itu dititipkan kembali pada ayahnya.
Pada tahun 1998, Dia menyudahi masa lanjangnya, dan membangun mahligai keluarga dengan ke kasih hatinya. Apa yang terjadi, Pada tahun 2013, batu itu hadir lagi dalam kehidupannya. Suami Ani yang menemukan batu itu sudah berada dalam saku jas suaminya. Sejak itu, Dia tidak lagi menitipkan batu itu kepada siapa pun. Dia yang langsung memelihara dan merawatnya, kemana-mana jadi temannya.
Ketika dia sedang melanjutkan studinya S-2 di UPI Bandung, terpanggil jiwanya untuk membahas, melestarikan berbagai peninggalan Sanghyang, tetapi Dia tidak punya bukti berupa artepak-artepak peninggalan Sanghyang. Dia berdoa semoga Alloh memberikan jalan untuk menemukan berbagai artepak dan peninggalan Sanghyang. Sejak itu berbagai batu berdatangan, baik itu yang ditemukan oleh Dia sendiri atau pun yang diberikan dari orang lain. Sekarang batu yang menjadi koleksinya sudah mencapai lebih dari seribu buah dan batu-batu itu mempunyai ceritanya sendiri-sendiri.
Diakhir pembicaraannya, Dia mengatakan bahwa batu-batu itu hanya merupan warisan budaya yang harus dijaga kelestariannya. Dia berpesan bahwa batu itu jangan diper-tuhan-kan atau dianggap mengandung mistik. Batu adalah batu, batu adalah benda Ciptaan Yang Maha Kuasa. Kita ambil saja pelajaran yang terkandung di dalamnya.
Rangkaian cerita yang mengiringi batu kelereng ini hanyalah yang dialami Dia. Orang lain boleh percaya boleh tidak. Mengenai nama dan mineral apa yang terdapat dalam batu tersebut belum diadakan penelitian secara ilmiah
Ditulis
ulang oleh Shardun Tabayun.
Di Sukapura, Hari Jum’at tanggal 4 Maret 2022.
Sumber : Youtube Nyai Tangulun.

0
Post a Comment