Artikel Terbaru Dari Shardun Tabayun

Coretan Tangan, Aku Titipkan Harapanku pada Kalian

 


 

Aku Titipkan Harapanku Pada Kalian


Ego keakuanku terus meronta-ronta, mencerca, dan memaksa idealisme aku yang telah lama tersimpan rapi dalam ribuan asaku. Ego ini  terus menyeret aku pada kebahagian dan kesenangan menikmati liburan akhir semester ini. Sementara itu, pada sisi lain, idealismeku teguh mempertahankan aku untuk segera menjelmakan asa yang sudah lama terpendam. Meskipun masih digelayuti keterpaksaan, aku kukuhkan hati untuk mengamini bisikan idealismeku. Aku putuskan untuk tidak libur di akhir tahun 2013.

Serpihan-serpihan asaku kini mulai menjelma, sebuah “rumah baca” yang berlabel “perpustakaan” mulai berdiri di tempat pengabdianku. Pengabdian yang mungkin masih sangat jauh menyentuh sebuah “arti pengabdian” yang sesungguhnya. Pengabdian yang berlandaskan pada”Keikhlasan” mengharapkan “Ridho-Nya”. Pengabdian yang mampu menebarkan kemaslahatan bagi sesama. Tapi kubiarkan itu semua berjalan bagaikan air mengalir. Dengan tetap membawa sebuah harapan semoga pengabdiaku akan menemui arti yang hakiki.

Keterjelmaan idealismeku diberondongi oleh pertanyaan-pertanyaan skeptis yang terlahir dari ketunaanku. Apakah perpustakaan yang lebih senang aku sebut sebagai “rumah baca” akan menjadi tempat yang nyaman untuk aku, guru-guru, dan anak-anakku dalam mengenal, menggali, memahami, dan mengimplementasikan berbagai makna kehakikian yang tersurat jelas dalam berbagai bacaan? Apakah dari “rumah baca” itu akan lahir insan-insan yang memiliki kesalehan intelektual, kesalehan sosial, dan kesalehan ritual? Apakah dari “rumah baca” itu akan terlahir manusia yang mengenali dirinya hingga  mencapai kesajatian insani, yaitu mengenal Yang Maha Pencipta?

Kealpaanku terkulai lemah, tak mampu beretorika menjawab berondangan pertanyaan skeptisku. Yang tersisa kini hanyalah “harapan” yang kini menjadi kekayaan tak ternilai dalam diriku. Harapan bahwa dari “rumah baca” akan terlahirnya insan-insan  yang memiliki  kecerdasan intelektual yang ternaungi oleh kecerdasan emosional, dan tersempurnakan oleh kecerdasan puncak, yaitu kecerdasan spiritual. Harapan terlahirnya manusia-manusia tangguh yang mampu mengoptimalkan potensi dirinya, menyayangi sesamanya, mencintai lingkungannya, Harapan terjelmakannya manusia yang mampu menebarkan berjuta makna kebahagian. Harapan bahwa “rumah baca” itu tidak hanya menjadi simbol perhatian  aku dan teman kerjaku terhadap dunia pendidikan. Bukan itu, dan bukan itu.

Aku menyadari bahwa harapanku tak akan berarti apa-apa tanpa bantuan dan kerja sama dengan sehabat-sehabatku. Aku pun menyadari bahwa suatu saat aku harus meninggalkannya. Oleh sebab itu, aku titipkan harapanku pada kalian.

Oma/ Shardun Tabayun

Pinggirsari, 5 Januari 2014

 

0

Post a Comment