Artikel Terbaru Dari Shardun Tabayun

Batu Prabu Kian Santang Sedang Dzikir dan Batu Fosil Telur, (Mengungkap Kekayaan Meseum Bumi Nyai Tangulun Limbangan

 


BATU PRABU KIAN SANTANG SEDANG DZIKIR

 

Setelah ditanyakan nama batu tersebut kepada para orang tua (sesepuh dalam Bahasa Sunda) batu tersebut adalah Batu Pabu Kian Santang Ketika sedang berdzikir.

Ketika batu itu sedang dipegang, maka Ibu jari atau jempol akan tepat mengisi lubang batu tersebut. Kemudian jempol digerak-gerakan seperti sedang berdzikir.

Batu tersebut adalah batu pemberian seorang anak. Sebelum memberikan batu, anak itu mimpi. Dalam mimpinya, anak tersebut disuruh memberikan batu  Kepada Bu Ani Suhartini. Anak tersebut bertanya, batu mana yang harus diberikan? Orang yang menyuruh memberikan batu itu memberikan petunjuk, bahwa batu yang harus diberikan itu berada di bawah bantal. Seketika itu, anak tersebut langsung bangun dan membuka bantalnya. Dia terkejut, benar ada batu di bawah bantalnya.

Keesokan harinya, anak tersebut langsung menemui Bu Ani Suhartini sambil memberikan batu itu dengan terlebih dahulu menceritakan semua mimpinya. Bu Ani langsung menerima batu pemberian itu dengan tak lupa mengucapkan terima kasih. Batu itu masih tersimpan rapi di Meseum Bumi Nya Tangulun Limbangan.

Cerita di atas benar-benar dari anak tersebut. Mengenai nama dan mineral apa yang terdapat dalam batu tersebut belum diadakan penelitian secara ilmiah.

 

Di Tulis ulang oleh Shardun Tabayun

Sukapura, hari Jum’at tanggal 4 Maret 2022

Sumber : Youtube Nyai Tangulun.

 

 

BATU FOSIL TELUR

 

Nama batu fosil telur ini hanya berdasarkan bentuknya seperti telur. Tentang nama yang tepat secara ilmiah belum diadakan penelitian. Batu ini diberikan oleh Kang Barnas. Menurut beliau batu ini ditemukan di gunung Sanghyang.

Batu ini sangat keras. Pernah beberapa kali mau dicoba dihancurkan, tetapi tidak berhasil. Berkali-kali dilemparkan dengan keras kepada batu lain, tetapi tepat tidak hancur. Pernah juga dicoba beberapa kali mau dihancurkan dengan menggunakan palu, tetapi tetap saja tidak hancur.

Sekarang batu ini disimpan dan dirawat di Museum Bumi Nyai Tangulun sebagai warisan dari Kang Barnas

 

Di Tulis ulang oleh Shardun Tabayun

Sukapura, hari Jum’at tanggal 4 Maret 2022

Sumber : Youtube Nyai Tangulun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2