Belajar Pada Tukang Gorengan
10/30/2020
Add Comment
Belajar pada Tukang Gorengan
Di Parakan Muncang kucuba membuka buku catatan. Meskipun terlihat sudah lusuh, tetapi tempat itulah yang aku punya. Tempat aku melukiskan lembaran-lembaran kehidupan yang telah puluhan tahun ku coba kumpulkan dari ceceran asa yang kadang terkulai oleh kemalasan atau kesombangan.
Di Parakan Muncang ku coba belajar pada pedagang gorengan yang tengah menjajakan bala-bala, gehu, goreng tempe dan goreng pisang. Padahal waktu telah menunjukkan pukul lima sore. Waktu di mana aku telah pulang dari tempat kerja empat setengah jam yang lalu. Pada wajah dia tidak terlihat wajah kelelahan atau perangai keluh kesah. Meskipun lebih banyak diam tapi tidak tersirat perangai pemberontakan akan nasib hidup. Meskippun tidak berteriak sambil mengepalkan tangan tapi terlukis jelas ketegaran dan ketabahan dalam menjalani hidup. Bahan yang mungkin dianggap sepele oleh sebagian orang, di tangan dia menjadi makanan yang terasa enak di lidahku. Dan mungkin di lidah-lidah orang lain. Bahan yang sederhana dengan racikan dan bumbu sederhana menjadi makanan yang banyak disukai orang. Para pembeli datang dengan berjalan atau sedikit berlari. Pembeli datang dengan perasaan senang, tidak terpaksa atau dipaksakan. Mereka datang dengan harapan akan mendapatkan sesuatu yang menjadi kesukaannya, Mereka yakin akan membawa hasil yang diinginkan, yaitu bala-bala, gehu, pisang goreng, tempe goreng, dan yang lainnya. Pedagang gorengan dikerumuni oleh para pembeli.
Kerumunan para pembeli membawa ingatan dan pikiranku pada murid-muridku di sekolah. Benarkah mereka telah datang kesekolah dengan bergegas atau berlari karena ingin bertemu dengan aku sebagai gurunya? Apakah mereka datang ke sekolah dengan hati senang dan gembira? Apakah sudah ada keyakinan dalam hati mereka akan memperoleh ilmu yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya? Apakah mereka sudah merasa akan memperoleh hasil yang kelak akan menjadi bekal hidupnya?
Aku tidak berdaya menjawab itu semua. Mungkinkah aku yang belum mampu menjelmakan materi, metode, dan media dalam proses pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menantang. Padahal jargon-jargon itu banyak terlontar dari mulutku ini. Mungkin pula karena aku belum mampu menyediakan tempat yang terbebas dari tekanan dan paksaan sehingga murid-muridku tidak mendapat ruang untuk berimajinasi dan berkreasi. Kini aku sadar bahwa aku harus banyak belajar dari hal-hal yang sederhana sekalipun. Seperti belajar dari tukang gorengan yang setiap hari mangkal di samping sekolahku.
Anak-anakku maafkan aku yang malas untuk belajar dan memikirkan kebutuhan serta masa depanmu.
Aku harus banyak belajar pada tukang gorengan.
Shardun Tabayun (Oma)
Parakan Muncang, 2 Desember 2013

0
Post a Comment