Artikel Terbaru Dari Shardun Tabayun

Maafkan Aku Anak-Anak

 


Aku Baru Bisa Mendefinisikan Kalian dengan Angka


Kubagikan rapor satu persatu kepada anak-anakku.

Rapor yang baru aku selesaikan pukul satu malam.

Aku selipkan sepotong kalimat nasehat agar mereka tetap rajin belajar meskipun sedang menikmati waktu libur.

Rona kebahagian terpancar dari muka  mereka yang mendapati angka-nagka besar pada rapornya.

Raut muka kecut menggambarkan kekecewaan terlahir dari mereka yang melihat deretan angka kecil pada rapornya.

Adapula yang wajahnya biasa-biasa..

Dan semuanya itu segera tergantikan dengan sorak-sorai mereka ketika aku mengumumkan waktu liburan yang mencapai dua minggu.

Mereka masukkan rapor di kantongnya dan segera berhamburan ke luar kelas.

 

Aku termenung dengan cercaan berbagai pertanyaan.

Mengapa ketika melihat angka-angka dirapor rona raut muka mereka jadi beragam?

Ada yang gembira, sedih, atau biasa-biasa saja.

Tetapi ketika mereka mendengar kata “libur dua minggu” raut mereka jadi satu,

yaitu pancaran kebahagian.

Apakah mereka sudah lupa dengan nilai yang tertera di rapor?

Ataukah kata “libur” lebih penting dari sekedar mengingat angka-angka dirapor?

Apakah lupa bahwa rapor itu gambaran perjalanan mereka selama enam bulan?

Ataukah sesuatu yang aku sangat khawatirkan telah terjadi?

Aku sangat khawatir meraka tidak paham makna deretan angka yang tertera dirapor.

 

Seandainya kekhawatiranku terjelmakan dalam pemahaman mereka,

maka aku yang harus minta maaf atas  kelemahanku.

Aku baru bisa mendefinisikan perkembangan mereka dalam bentuk angka.

Ketika mereka mampu menjawab soal-soal,  aku bisa memberi mereka nilai dengan angka. Tetapi ketika mereka kerja keras penuh ketekunan menjawab soal-soal,

ketika mereka mengejawantahkan arti kejujuran dalam mengerjakan soal,

ketika mereka menebarkan kasih sayang bersama teman-temannya,

ketika mereka berlaku sopan santun dalam bergaul dan,

ketika meraka bekerja sama menjaga kebersihan sekolah. 

Itu semua tidak bisa aku nilai dengan angka.

Aku tidak yakin akan ada angka yang mampu menilai kejujuran, kasih sayang, kebersamaan, sopan santun, dan kerja keras.

Mungkin inikah yang menyebabkan kata “rapor” terhijab oleh penting dan bermaknanya kata “libur”

Maafkan aku anak-anak! Aku belum sempurna menilai kebaikan akhlak kalian.

 

Shardun Tabayun/Oma Ajah

(pernah diposting di FB Oma Ajah tanggal 21 Desember 2013)

0

Post a Comment