Maafkan Aku Anak-Anak
Aku
Baru Bisa Mendefinisikan Kalian dengan Angka
Kubagikan rapor satu persatu kepada anak-anakku.
Rapor yang baru aku selesaikan pukul
satu malam.
Aku selipkan sepotong kalimat
nasehat agar mereka tetap rajin belajar meskipun sedang menikmati waktu libur.
Rona kebahagian terpancar dari
muka mereka yang mendapati angka-nagka
besar pada rapornya.
Raut muka kecut menggambarkan
kekecewaan terlahir dari mereka yang melihat deretan angka kecil pada rapornya.
Adapula yang wajahnya biasa-biasa..
Dan semuanya itu segera tergantikan
dengan sorak-sorai mereka ketika aku mengumumkan waktu liburan yang mencapai
dua minggu.
Mereka masukkan rapor di kantongnya
dan segera berhamburan ke luar kelas.
Aku termenung dengan cercaan
berbagai pertanyaan.
Mengapa ketika melihat angka-angka
dirapor rona raut muka mereka jadi beragam?
Ada yang gembira, sedih, atau biasa-biasa
saja.
Tetapi ketika mereka mendengar kata
“libur dua minggu” raut mereka jadi satu,
yaitu pancaran kebahagian.
Apakah mereka sudah lupa dengan
nilai yang tertera di rapor?
Ataukah kata “libur” lebih penting
dari sekedar mengingat angka-angka dirapor?
Apakah lupa bahwa rapor itu gambaran
perjalanan mereka selama enam bulan?
Ataukah sesuatu yang aku sangat
khawatirkan telah terjadi?
Aku sangat khawatir meraka tidak
paham makna deretan angka yang tertera dirapor.
Seandainya kekhawatiranku terjelmakan
dalam pemahaman mereka,
maka aku yang harus minta maaf
atas kelemahanku.
Aku baru bisa mendefinisikan
perkembangan mereka dalam bentuk angka.
Ketika mereka mampu menjawab
soal-soal, aku bisa memberi mereka nilai
dengan angka. Tetapi ketika mereka kerja keras penuh ketekunan menjawab
soal-soal,
ketika mereka mengejawantahkan arti
kejujuran dalam mengerjakan soal,
ketika mereka menebarkan kasih
sayang bersama teman-temannya,
ketika mereka berlaku sopan santun
dalam bergaul dan,
ketika meraka bekerja sama menjaga
kebersihan sekolah.
Itu semua tidak bisa aku nilai
dengan angka.
Aku tidak yakin akan ada angka yang
mampu menilai kejujuran, kasih sayang, kebersamaan, sopan santun, dan kerja
keras.
Mungkin inikah yang menyebabkan kata
“rapor” terhijab oleh penting dan bermaknanya kata “libur”
Maafkan aku anak-anak! Aku belum
sempurna menilai kebaikan akhlak kalian.
(pernah diposting di FB Oma Ajah tanggal 21 Desember 2013)

0
Post a Comment